Forum Dialog Alumni ITB : “ Opsi Terbaik Pengelolaan Blok Masela “

1

Seperti kita ketahui, setelah melalui kajian yang cukup panjang, SKK Migas merekomendasikan Pengelolaan Gas Abadi Blok Masela dilakukan dengan kilang gas cair (LNG) terapung, sementara Tim Ahli Fortuga ITB merekomendasikan LNG Darat. Untuk memutuskan opsi terbaik, Menteri ESDM merencanakan untuk menunjuk Konsultan Independen dengan reputasi World Class untuk memberikan rekomendasi profesional.

Untuk membahas “Opsi Terbaik Pengelolaan Blok Masela’, Ikatan Alumni ITB berinisiatif untuk mengadakan Forum Dialog Alumni ITB dengan mengundang para ahli alumni ITB yang mewakili masing-masing sudut pandang. Melalui forum dialog ini diharapkan didapatkan pandangan yang menyeluruh yang nantinya akan mengerucut pada opsi yang terbaik bagi bangsa kita.

2

Sekitar 130 alumni ITB dari berbagai angkatan dan jurusan hadir di Forum Dialog yang dibuka oleh Betti Alisjahbana selaku penyelenggara dan Sekjen Ikatatan Alumni ITB, dan dilanjutkan oleh paparan selama 30 menit masing-masing oleh Aussie Gautama, Alumni GL-74 dan oleh Yoga Pratomo Suprapto, Alumni TK-73. Aussie adalah mantan Deputi Perencanaan SKK Migas, di dalam presentasinya menyampaikan kronologis kajian hingga dikeluarkan persetujuan POD. Aussie berpendapat konsep LNG Laut lebih menguntungkan Negara dan layak investasi bagi investor. Konsep LNG laut lebih cepat memasuki tahap konstrusi (2018) dan produksi (2024). Kosep LNG laut sesuai dengan visi kemaritiman, mendorong alih teknologi strategis, dan membangun kapasitas industri galangan kapal dan perkapalan nasional. Setiap tahun penundaan pelaksanaan, akan berakibat menghilangkan kesempatan penerimaan negara sebesar USD 4 Milyar. Yoga Pratomo, sebagai tim ahli Fortuga berpendapat bahwa opsi LNG Laut atau Darat harus dilihat dalam konteks yang lebih luas. Opsi keekonomian hulu harus dicapai dulu, sesudah itu harus semaksimal mungkin digunakan untuk kepentingan domestik, jangan semua di ekspor. Strategi pendapatan kita tidak boleh hanya migas, tetapi juga dampak multiplier nya serta keterlibatan industri dan SDM nasional. Materi presentasi dari masing-masing pembicara dapat di unduh di http://iaitb.or.id/download/File/Opsi%20Terbaik%20Pengelolaan%20Blok%20Masela.zip

3

4

Moderator Prof. Tutuka Ariadji, M. Sc., Ph. D , alumni TM-83 yang memimpin sesi dialog menyimpulkan :

1. SKKMIGAS selalu wakil Pemerintah telah melakukan pengkajian berbagai skenario pengembangan lapangan selama proses Persetujuan POD pada tahun 2009-2011, dan INPEX dinilai sebagai perusahaan yang melaksanakan komitmen-komitmennya dengan baik

2. Diharapkan Lapangan Masela dapat memproduksikan gas sebesar 1,2 BSCFD sehingga penundaan setahun berakibat menghilangkan kesempatan penerimaan negara sebesar 4 Milyar USD.

3. Opsi Floating LNG diharapkan dapat menggerakan industri maritim di Indonesia Timur

4. Perlu dicermati kenaikan produksi menjadi 7,5 MTA (million Ton per annum) dari 2,5 MTA yang bersamaan dengan naiknya nilai Initial Gas In Place: apakah bertujuan untuk memperbesar ekspor gas yang akan diproduksikan dan bukan untuk kebutuhan domestik?

5. Perlu mempertimbangkan Cost Benefit dalam opsi FLNG atau OLNG, tidak hanya keenomomian, tetapi juga untuk kemanfaatan bagi negara dan masyarakat Indonesia seperti keterlibatan industri dan SDM nasional.

6. Dapat disimpulkan bahwa adalah bukan menjadi permasalahan apakah FLNG atau OLNG apabila produksi yang dihasilkan diperuntukkan kebutuhan domestik semaksimal mungkin. Selanjutnya apabila dipilih opsi FLNG maka diajukan prasyarat-prasyarat pada setiap level pengambilan keputusan untuk mengikutsertakan SDM nasional secara institusional.

7. Disarankan Pemanfaatan gas sebaiknya untuk kebutuhan Industri dalam negeri agar dapat meningkatkan nilai tambah produk, bukan hanya untuk energi. Untuk itu perlu dikembangkan industri hilir dalam negeri petrokimia dan sebagainya.

5