Picture13

Pemilu Ketua Pengda IA ITB Jatim, terlambat 1 tahun. Seharusnya berlangsung pada tahun 2014, bulan Juni. Tapi baru bisa terlaksana tahun 2015. Mengapa terlambat ?. Panpel yang terbentuk tidak jalan. Mengapa tidak jalan ?. Karena tidak ada yang mau jadi calon. Apalagi jadi beneran. Saya berharap panitia pemilu IA Pusat tidak ketularan kejadian pemilu di Jatim. Panitia di pusat harus ada “provokator” agar ada alumni mau menjadi Ketua Umum. Istilah halusnya barangkali perlu lobby-lobby. Mungkin perlu dipikirkan dalam pemilu, ada komite nominasi untuk memilih kira2 siapa yang pantas dan mau menjadi calon, lalu jadi Ketua beneran. Komite ini, bisa merupakan bagian dari Panitia pemilu, atau terpisah yang dibentuk pengurus.

Yang terjadi di Jawa Timur, tertunda 1 tahun. Karena tidak ada calon, dan panitia tidak berdaya. Untuk lobby-lobby atau memaksa seorang Alumni menjadi calon. Maka saya punya ide, cara pemilunya seperti ini. Mencari calon sebanyak mungkin, lalu dimintai kesediaan (tertulis) untuk menjadi ketua. Jika lebih dari 1 orang maka dilakukan voting, atau musyawarah bilamana mau. Oh, ya di Jatim, model komunikasi dengan anggota (pengumuman, ucapan selamat, anggota yang masuk/keluar di Jatim dll) biasanya menggunakan “broadcast sms” ke seluruh anggota. Bisa 2 arah. Ada juga yang membalas dan tidak. Ada yang menjawab, no HP nya baru, perlu diganti, ada yang sms balik tidak usah dikirimi sms lagi karena suaminya yang alumni ITB, sudah almarhum, dan sebagainya.

Dengan modal BC itu, maka saya arahkan panitia pemilu untuk menjaring calon2 ketua IA ITB, mosok diantara 1000 alumni tidak ada calon. Peraturannya, semua alumni bisa boleh menunjuk siapa saja alumnii yang dikenal, atau sekedar tahu.. Termasuk boleh menunjuk dirinya sendiri. Saya bergembira saat dilapori panitia ada 8 nama yang muncul. Saya sedih ketika suara saya terbanyak (maklum mungkin incumbent). Tapi jumlah suara itu tidak diberitahukan kepada calon lain. Agar calon-calon tidak berfikir tidak mau. Lalu, panitia menghubungi 8 calon tersebut, dimintai kesediaannya tertulis. Ada yang mengembalikan form tersebut dengan mengisi “tidak bersedia”. Ada pula yang hanya sms, tidak bersedia dengan berbagai alasan. Misal, merasa tidak mampu. Sudah tua. Tidak ada waktu, yang muda saja. Calon potensi yang dari BUMN, khawatir jika dipindah ke lain daerah. Ada satu, calon yang secara lisan menyatakan bersedia (di luar incumbent), tapi begitu dimintai kesediaan secara tertulis, menyatakan mundur. Tidak sanggup dan mendukung agar “incumbent” tetap menjadi ketua. Toh ! baru 1 periode. Hhmm… kondisi pengurus daerah, ya seperti itu. Miskin kandidat. Untuk itu Perlu dipikirkan oleh IA Pusat bagaimana upaya agar, aturan 2 periode menjadi ketua di daerah bisa teratasi dan berjalan baik.

Saat ini, pemilu Ia ITB pusat sudah bergulir, dan panitia telah kirim poster untuk disebarkan. Mungkin didaerah lain masih adem ayem. Tapi di Jawa Timur sudah mulai hangat. Di WA, dengan gaya bahasa “loedroek suroboyoan” digulirkan, bagaimana jika Ketua IA ITB Jatim dicalonkan menjadi ketua IA Pusat. Hanya 1 posting saja digulirkan, komentar2 serius dan santai bersahutan. Sudah waktunya. Pembaharuan, saya dukung. Harus dicoba, sekali waktu Ketua IA berasal dari Timur. Komentar muncul dari, anggota, komisariat Malang, Petro/Gresik, Madiun, bahkan Rektor ITS pun yang alumni ITB memberikan komentar dukungan agar heboh. Maka semua itu saya jawab dengan “guyonan” pula. Posting tersebut ada yang saya sebut sebagai insiator, “kompor”, ada “elpiji” yang wanita disebut “kipas”… dan ada juga sebagai korlap kampanye, suara dan penyandang dana atau investor ha ha ha. Segala lini sudah siap. Saat tulisa ini saya buat, grup WA IA ITB Jatim, masih terjaga hangat. Terutama seorang Alumni senior, EL/63, sebagai inisiator . Mungkin masih menunggu kira2 siapa calon IA ITB pusat dari daerah Barat, atau yang dekat dengan Bandung, Jakarta.

Anyway. Sebenarnya cukup banyak calon Ketua IA ITB Pusat, yang bersedia dan hebat. Hanya perlu pendekatan khusus agar tidak ragu2 dan panitia memberikan pelayanan yang mudah. Saya dengan ada Pak Arief Yahya, ada Mas Pramono Anung, Rizal Ramli, mbak Betti rasanya juga pantas dan mumpuni (note: jika mbak Betti mencalonkan, saya secara pribadi tetap konsisten mendukung sejak pemilu tahun 2007), dan saya rasa masih banyak lagi calon yang kredibel. Mampu dan bisa memanage waktu untuk IA ITB.

Kami, dari IA ITB Jawa Timur sangat siap mendukung kongres IX IA ITB dan Pemilu, serta mendukung sepenuhnya siapapun yang terpilih menjadi Ketua Umum periode mendatang. Semoga Kongres IX dan Pemilu dan acara pendukungnya, berlangsung seru, ramai, meriah dan yang penting guyub. Menjaga tali silaturahim adalah di atasi segalanya bagi alumni. Salam Ganesha. In harmonia progessio. (GPRS)