Peluncuran Buku Menghimpun yang Terserak Untuk indonesia yang Lebih Baik, Catatan Diaspora Alumni ITB

Kamis 3 Desember 2015, sebuah buku yang ditulis 28 Alumni ITB yang berkarya di Luar Negeri diluncurkan.

Ide untuk membuat buku ini dilandasi oleh satu hal yang sangat menyentuh hati saya yaitu tagline mas Sumaryanto (mas SUM) ketika pemilihan ketua IAITB 2011-2015 yang lalu, “Menghimpun yang terserak”, dengan kenyataan lebih dari 70 ribu alumni ITB yang tersebar di semua penjuru termasuk yang di Luar Negeri. Demikian disampaikan Susilo Cahyono, Ketua Departemen Pengembangan Organisasi Luar Negeri, Bidang Organisasi dalam sambutan singkatnya membuka acara Peluncuran Buku “MENGHIMPUN YANG TERSERAK UNTUK INDONESIA LEBIH BAIK, CATATAN DIASPORA ALUMNI ITB”

 Acara yang dipandu oleh Dini Mentari, Ketua Departement Program Studi- Bidang Organisasi dan dihadiri oleh sekitar 65 orang, yang berasal dari angkatan 64 hingga angkatan 2011, Juga dihadiri oleh Pengurus Pusat IA ITB, dan menampilkan beberapa pembicara yaitu, dari Medco E&P Indonesia, sebagai pihak sponsor penerbitan buku, Cardiyan HIS, Editor buku, Alumni Senior, Amir Sambodo serta salah satu contributor buku Dr Taufik Faturohman.

Di buku ini 28 Alumni ITB yang berkarya di Luar Negeri menuangkan tulisan dan artikel berbagai topik yang mencerminkan kekayaan pandangan, pengalaman dan keahlian diaspora alumni ITB.

Inline image 1

Picture: Sebaran Alumni ITB di seluruh dunia

Jika dilihat dari sebaran alumni ITB yang hampir berada di seluruh penjuru pelosok dunia, maka keberadaan Alumni ITB adalah bagian dari komunitas masyarakat Indonesia di sejumlah negara di luar negeri itu sendiri, yang sejak Congress of Indonesia Diaspora pertama (CID-1) di Los Angeles 2012 lalu, dikenal saat ini dengan Diaspora Indonesia.

Sebenarya masa kepengurusan ini, juga terbentuk beberapa Komisariat Luar Negeri, IA ITB UK, IA ITB Western Australia, IA ITB UAE, selain yang sebelumnya sudah ada yaitu IA ITB Malaysia, Singapore dan Qatar. Saat ini yang sedang masih dalam diskusi adalah IA ITB Eropa (Daratan), dan IA ITB Amerika Utara. Semoga segera terbentuk di kepengurusan yang akan datang.

Kembali lagi ke masalah buku, meski terlambat begitu lama peluncurannya, karena ide sekitar pertengahan 2012 merencanakan membuat buku yang berupa kumpulan tulisan dari alumni-alumni di seluruh dunia, dan target penyelesaian awal 2014, mundur hingga akhir 2015. Luar biasa telat. But, never late the never, begitu kata pepatah.

Beragam tulisan yang disajikan pada buku ini, mulai dari perjuangan menembus ketatnya persaingan masuk ITB, suka-duka kuliah di ITB, memasuki persaingan di dunia nyata, dunia kerja atau menyambut tantangan lain sebagai wirausahawan, termasuk di dalamnya pemikiran dan pengalaman unik yang didapatkan selama berada di luar negeri yang bisa diterapkan di dalam negeri. Tujuan utamanya selain terus jaringan pertemanan dan sharing pengalaman, ide gagasan yang bisa memberikan nilai tambah untuk negeri tercinta. Alumni-alumni ITB yang tersebar di seluruh dunia merupakan aset bangsa. Selain menjadi dutabesar ITB, teman-teman alumni di berdomisili di luar negeri juga sekaligus dutabesar rakyat Indonesia. Jalinan komunikasi yang dibangun sudah dimulai dengan pembentukan grup khusus di media sosial online, sesi sharing secara online/remote adalah awal dari sesuatu yang baik dalam networking. Saat ini yang tregabung dalam grup ITB Alumni Global Network lebih dari sekitar 500- an alumni.

“Kami berharap buku ini bisa memberikan inspirasi bagi alumni ITB lainnya, masyarakat di luar ITB dan siapa saja yang peduli dengan kemajuan Indonesia. Satu benang merah yang nyata adalah: Alumni ITB di manapun berada tetap menunjukkan jati diri sebagai insan yang pernah tumbuh dan berkembang bersama di Bumi Ganesha, selalu ingin menjadi yang terbaik, berintegritas tinggi, tidak mudah menyerah, open-minded, selalu peduli kepada masyarakat sekitar serta tetap cinta tanah airnya Indonesia”, demikian ditambahkan oleh Susilo dalam kesempatan terpisah.

Sementara itu, dalam sambutannya, perwakilan Medco menyampaikan sangat senang karena dapat mendukung penerbitan buku ini dan berharap buku ini berguna untuk memberikan inspirasi alumni lainnya.

Cardiyan HIS sebagai editor buku menyitir hal menarik, bahwa para alumni ITB di luar negeri banyak bekerja sebagai peneliti, scholars, tenaga ahli dan beberapa profesi lainnya. Jarang sekali yang diangkat di buku ini, yang memilki profesi sebagai entrepreneur. meski Cardiyan mengkritisi kontribusi alumni yang ditulis dalam buku ini, ‘belum terlalu luar biasa’. Namun perjuangan para alumni yang bekerja di luar negeri ini, memiliki peran yang nyata.

Salah satu kontributor buku yang hadir dalam acara adalah Dr.Taufik Faturohman, menceritakan pengalamannya berdiaspora dalam mengambil gelar Doktor di Australia dengan segala keterbatasannya. Ia mengusulkan perlu ada dukungan politik bagi para alumni yang berdiaspora untuk mengkontribusikan gagasan serta karyanya di Indonesia sekembalinya ke tanah air.

Sementara Alumni Senior, Amir Sambodo, dalam menyampaikan beberapa hal dia nataranya perlunya diwadahinya bagi mereka alumni yang ingin kembali dari LN dan berkarya di Indonesia.

Untuk sementara bagi yang menginginkan buku bisa menghubungi sekretariat alumni IAITB Pusat Jl Hang Lekiu II/40, dengan mengirimkan email Ida Nurfaiza, email: idhea11@gmail.com harga per buku Rp. 170,000 termasuk ongkos kirim Jabodetabek/Bandung.